Pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong Un, memberikan dukungan kuat kepada Rusia, mencakup keamanan dan kepentingan militer strategis kedua negara. “Kim menekankan komitmen teguh Korut untuk mendukung tindakan Rusia dalam mempertahankan kedaulatan dan keamanannya,” lapor Anadolu Agency pada Sabtu (22/3/2025).
Pernyataan tersebut disampaikan Kim dalam pembicaraan dengan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergey Shoigu, Jumat lalu. Keduanya membahas kerja sama keamanan dan perkembangan regional, berjanji untuk memperkuat kemitraan strategis, khususnya di bidang pertahanan dan kerja sama bilateral yang lebih luas.
1. Kunjungan Shoigu di Tengah Ketegangan Global
Kunjungan Shoigu disambut oleh pejabat tinggi Korut, termasuk Pak Jong Chon dan Wakil Menteri Luar Negeri Kim Jong Gyu. Kunjungan ini terjadi beberapa hari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan menerima usulan gencatan senjata 30 hari dengan Ukraina, menyusul panggilan telepon dengan Presiden AS, Donald Trump.
Dialog Kim dan Shoigu difokuskan pada perang Rusia-Ukraina dan dialog Moskow-Washington. Pertemuan ini menegaskan kembali kesepakatan Juni 2024 terkait kerja sama keamanan kedua negara, menunjukkan komitmen bersama untuk pertahanan mutual.
2. Pengerahan Pasukan Korut ke Rusia
Intelijen Korsel melaporkan pengiriman tambahan sekitar seribu pasukan Korut ke Rusia pada akhir Februari. Totalnya, diperkirakan 11.000 pasukan Korut telah berpartisipasi dalam konflik Rusia-Ukraina.
Beberapa analis menilai pasukan Korut rentan di medan perang karena kurangnya pengalaman. Laporan Januari menyebutkan sekitar seribu pasukan Korut tewas dalam tiga bulan terakhir.
3. Ketegangan di Semenanjung Korea Meningkat
Kunjungan Shoigu bertepatan dengan penutupan latihan militer gabungan AS-Korsel, yang berlangsung selama 11 hari. Latihan ini melibatkan sekitar 19.000 pasukan Korsel dan pasukan AS, termasuk kapal induk USS Carl Vinson.
Korut mengecam latihan tersebut dan meluncurkan rudal antipesawat sebagai respons. Kim Jong Un mengawasi langsung peluncuran dan mengklaim respons rudal tersebut sangat efektif dan dapat diandalkan.
Situasi ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam ketegangan geopolitik. Dukungan Korut yang tegas terhadap Rusia, ditambah dengan pengerahan pasukan dan latihan militer gabungan AS-Korsel, menciptakan dinamika yang kompleks dan berpotensi memicu eskalasi konflik di kawasan.
Perlu dicatat bahwa informasi intelijen seringkali bersifat sensitif dan dapat berubah. Analisis situasi ini perlu mempertimbangkan berbagai sumber dan sudut pandang untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif. Lebih lanjut, dampak jangka panjang dari dukungan Korut terhadap Rusia dan implikasi terhadap stabilitas regional masih belum dapat diprediksi.