Bahasa Agama: Kunci Penting Partisipasi Masyarakat yang Lebih Aktif

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan pentingnya bahasa agama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat untuk pembangunan bangsa. Indonesia, dengan mayoritas penduduknya yang religius, lebih mudah diajak berpartisipasi jika pendekatannya menggunakan nilai-nilai keagamaan.

“Tanpa bahasa agama, kita kesulitan untuk meraih partisipasi masyarakat. Masyarakat Indonesia itu religius, jadi kita perlu menggunakan bahasa agama untuk menggugah semangat mereka,” ungkap Menag Nasaruddin dalam sebuah dialog di Jakarta.

Beliau menambahkan bahwa penggunaan bahasa agama bukan untuk menggantikan bahasa politik atau demokrasi, melainkan sebagai pelengkap. Berbagai bahasa perlu digunakan agar pesan pembangunan tersampaikan secara luas.

Menag Nasaruddin juga mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mencapai pembangunan yang lebih baik dan efisien.

1. Pentingnya Kerukunan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Menag Nasaruddin mengingatkan bahwa kerukunan antarumat beragama dan antarwarga negara adalah kunci pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Kekayaan sumber daya alam dan budaya Indonesia tak akan berarti tanpa kerukunan.

“Sehebat apapun kekayaan kita, jika tidak diwujudkan dalam negara yang rukun dan tenteram, itu tidak ada artinya. Kerukunan adalah hal yang paling penting, selain itu kita harus memanfaatkan potensi bangsa dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Perbedaan agama dan budaya harus dilihat sebagai kekuatan, bukan pemisah. Kerukunan, solidaritas, dan penggalian potensi bangsa harus berjalan beriringan.

2. Integrasi Identitas Keagamaan dan Kebangsaan

Menag Nasaruddin mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak memisahkan identitas keagamaan dan kebangsaan. Setiap individu harus mampu menjadi sepenuhnya religius dan sepenuhnya Indonesia.

“Seorang Muslim harus 100 persen Muslim dan Indonesia 100 persen. Seorang Katolik harus 100 persen Katolik dan Indonesia 100 persen. Jangan mempertentangkan antara keagamaan dan kebangsaan. Itu sudah dilewati,” jelasnya.

Dengan semangat kebersamaan dan integrasi yang kuat, Indonesia dapat mencapai kesejahteraan merata bagi seluruh rakyat.

3. Kesadaran Kolektif untuk Perubahan

Ketua Umum IKA UIN Alauddin Makassar, Idrus Marham, menekankan pentingnya kesadaran kolektif umat Islam untuk memahami realitas sosial dan melakukan perubahan.

Perubahan yang dilakukan harus bersifat konseptual dan normatif agar program dapat diimplementasikan dan menjangkau masyarakat luas.

Kegiatan dialog tersebut menjadi momentum bagi alumni untuk membangun komitmen keumatan dan kebangsaan, memperluas jaringan, dan memetakan potensi alumni dalam berkontribusi pada pembangunan.

Pemetaan potensi alumni di berbagai ruang strategis diharapkan dapat mengoptimalkan kontribusi positif alumni UIN Alauddin Makassar bagi pembangunan umat dan bangsa.

Kesimpulannya, Menag Nasaruddin Umar menyerukan pentingnya peran bahasa agama, kerukunan, dan integrasi identitas keagamaan dan kebangsaan dalam membangun Indonesia yang lebih baik dan sejahtera. Kesadaran kolektif masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *