Serangan Israel terhadap Jalur Gaza pada Jumat, 21 Maret 2025, menghancurkan Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, satu-satunya rumah sakit khusus kanker di wilayah tersebut. Militer Israel mengklaim Hamas menggunakan rumah sakit sebagai markas, namun citra satelit tahun 2024 menunjukkan Israel sendiri pernah menggunakan fasilitas tersebut sebagai pangkalan militer.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut penghancuran rumah sakit tersebut sebagai kejahatan keji dan bagian dari upaya genosida sistematis terhadap layanan kesehatan Gaza. Pernyataan kementerian tersebut mengecam tindakan brutal Israel tersebut secara tegas.
1. Sejarah dan Pentingnya Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina
Rumah Sakit dan Sekolah Kedokteran Persahabatan Turki-Palestina dibangun oleh Badan Kerja Sama dan Koordinasi Turki (TIKA) dengan biaya 70 juta dolar AS (sekitar Rp1,1 triliun). Pembangunannya dimulai pada 2011 dan selesai pada 2017. Rumah sakit ini merupakan fasilitas medis terbesar di Gaza dan satu-satunya yang terakreditasi untuk perawatan kanker.
Rumah sakit ini telah mengalami serangan sebelumnya. Pada 30 Oktober 2023, serangan udara Israel menghantam lantai tiga rumah sakit, memaksa penutupan sementara pada 1 November 2023 karena kekurangan bahan bakar. Meskipun mengalami kerusakan, beberapa fasilitas masih berfungsi sebelum serangan terbaru yang menghancurkannya total.
Zaki Al-Zaqzouq, kepala departemen onkologi, menyatakan keprihatinannya atas penghancuran rumah sakit tersebut. “Saya tidak bisa memahami apa yang bisa didapat dari membombardir sebuah rumah sakit yang menjadi penyambung hidup bagi begitu banyak pasien,” ujarnya.
2. Kecaman Internasional atas Serangan Terhadap Rumah Sakit
Turki mengecam keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai bagian dari kebijakan Israel untuk membuat Gaza tidak layak huni dan menggusur paksa warga Palestina. PBB juga turut mengecam tindakan Israel.
Juru bicara PBB, Farhan Haq, menyatakan bahwa semua serangan terhadap infrastruktur medis merupakan pelanggaran hukum kemanusiaan internasional. PBB secara tegas menolak tindakan tersebut dan mendesak penghentian kekerasan.
Sejak Oktober 2023, militer Israel secara sistematis menargetkan sistem layanan kesehatan Gaza, termasuk pengeboman, pengepungan rumah sakit, perintah evakuasi, dan pemblokiran pasokan medis, terutama di Gaza utara.
3. Eskalasi Konflik dan Ancaman Aneksasi Gaza
Lebih dari 700 warga Palestina tewas dan lebih dari 900 terluka akibat serangan udara Israel sejak 18 Maret 2025. Serangan ini menghancurkan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung sejak Januari.
Serangan terbaru diperkirakan lebih mematikan dan merusak karena Israel mengejar tujuan yang lebih luas dengan batasan yang lebih sedikit. Menteri Pertahanan Israel, Katz, menyatakan Israel akan meningkatkan kampanye militer hingga Hamas membebaskan semua sandera.
Katz juga memerintahkan tentara untuk merebut lebih banyak wilayah di Gaza, mengevakuasi penduduk, dan memperluas zona keamanan. Ia mengancam akan terjadi aneksasi wilayah Gaza jika sandera tidak segera dibebaskan. “Semakin lama Hamas menolak untuk membebaskan sandera, semakin banyak wilayah yang akan hilang dari mereka dan dikuasai Israel,” tegas Katz.
Penghancuran Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina merupakan tragedi kemanusiaan yang mengerikan dan mencerminkan eskalasi konflik yang mengkhawatirkan di Gaza. Tindakan ini menimbulkan kekhawatiran akan pelanggaran HAM yang serius dan memperparah penderitaan warga sipil Palestina. Perlu adanya upaya internasional yang kuat untuk menghentikan kekerasan dan memastikan perlindungan warga sipil.