Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memerintahkan IDF untuk merebut lebih banyak wilayah Gaza jika Hamas menolak membebaskan para sandera. Perintah ini menyusul dilanjutkannya perang di Gaza setelah gencatan senjata hampir dua bulan, di mana 33 sandera Israel dibebaskan.
“Jika organisasi teroris Hamas terus menolak membebaskan para sandera, saya telah menginstruksikan IDF untuk merebut wilayah tambahan, sambil mengevakuasi penduduk, dan memperluas zona keamanan di sekitar Gaza untuk melindungi masyarakat Israel dan tentara IDF, melalui kendali permanen Israel atas wilayah tersebut,” tegas Katz.
1. Ancaman Aneksasi dan Perubahan Status Quo di Gaza
Ancaman aneksasi wilayah Gaza oleh Israel merupakan perubahan signifikan terhadap status quo yang telah berlangsung hampir 20 tahun. Pada 2005, Israel mengevakuasi Gaza, dan setahun kemudian Hamas mengambil alih kendali.
Katz menegaskan bahwa Operasi ‘Kekuatan dan Pedang’ akan terus berlanjut dengan intensitas meningkat hingga Hamas membebaskan sandera. Ia juga menyatakan komitmen Israel terhadap proposal Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, untuk memindahkan semua sandera dari Gaza dalam dua tahap.
2. Dukungan AS dan Konsekuensi bagi Hamas
Pemerintahan Donald Trump secara terbuka mendukung tindakan militer Israel, berbeda dengan pendekatan pemerintahan Biden yang lebih menekankan pada pembatasan korban sipil. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan dukungan penuh Trump terhadap Israel dan IDF.
“Presiden sebelumnya memperingatkan Hamas bahwa akan ada neraka yang harus dibayar jika para sandera tidak dibebaskan,” tegas Leavitt, menggemakan peringatan keras Trump terhadap Hamas.
3. Kekacauan Internal di Israel
Di tengah konflik di Gaza, Israel juga menghadapi kekacauan internal. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan pemungutan suara untuk memecat kepala Shin Bet, badan intelijen dalam negeri Israel, Ronen Bar.
Netanyahu mengklaim ketidakpercayaan terhadap Bar, sementara Bar sendiri menolak klaim tersebut dan menyebut motif pemecatannya tidak berdasar. Mahkamah Agung Israel pun mengeluarkan perintah sementara yang mencegah pemecatan tersebut.
Situasi di Gaza sangat dinamis dan kompleks. Ancaman aneksasi wilayah oleh Israel berpotensi meningkatkan eskalasi konflik dan menimbulkan konsekuensi kemanusiaan yang serius. Sementara itu, ketidakstabilan politik internal Israel juga dapat mempengaruhi jalannya konflik.
Perkembangan terkini menunjukkan bahwa solusi damai tampaknya masih jauh dari jangkauan, dengan kedua belah pihak bersiap untuk konfrontasi yang lebih besar. Ketegangan regional yang tinggi serta peran aktor internasional dalam krisis ini akan terus menjadi faktor penentu dalam perkembangan selanjutnya.